By doc foto sebagai diri
DIRI YANG LELAH MELANGKAH HIDUP.
Sekarang ini jalan mana yang harus ku pilih untuk, langkah kaki yang sudah lelah, belahan bumi bagian lagi yang harus kutempuh agar aku, bisa bertemu dengan ketenangan, Aku berharap aku bisa memeluk seseorang dan menangis sekencang -kencangnya di pundaknya. Sampai habis air mataku, sampai aku kehilangan cara untuk tidak menyerah saat ini juga. Sekarang ini apa yang lebih penting dari sekedar kita masih bisa bernafas Masih bisa beribadah, lalu berdoa.
Masih memiliki rumah untuk berteduh, walau kadang, rumah tidak seperti definisinya yang malah kadang suka kehilangan fungsinya Sebab menangis adalah cara terakhirku untuk meluapkan emosi. Karena di titik ini aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk sekedar menceritakan, tentang hal-hal yang menyakitkan terlalu banyak luka yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi datangnya dari mana, Jujur ini di titik ini aku capek banget sama hidup yang, katanya akan selalu ada Pelangi setelah badai. Nyatanya, badai usai pun Pelangi tak kunjung datang sekali pun datang ia hanya sebentar lalu pergi lagi.
Terus bagian mana yang bisa kusebut itu beneran hidup? Sebab hidup pun aku ga tau bahagianya di bagian mana, Kenapa semua orang pergi disaat aku sedang butuh mereka dalam hidup ini, Yang padahal aku sendiri selalu memberikan Pundakku, untuk mereka. Bahuku selalu siap ditumpangi beban dan bahkan telingaku pun selalu ramah untuk diajak cerita Kenapa sekarang pergi semua? Kalian sadar gak sih, sebenarnya semua yang aku lakukan ke kalian itu. Adalah semua hal yang ingin aku dapatkan Setidaknya, walaupun aku tidak bisa mendapatkannya.
Aku bisa memberikannya kepada semua orang lukankah menarik, melihat orang-orang disekitar kita Bisa mendapatkan apa yang kita mau. Tapi tidak pernah kesampaian untuk diri sendiri, sederhananya, aku hanya ingin membuat mereka merasa beruntung pernah kenal aku.
Setidaknya kalau aku belum bisa jadi baik, aku bisa jadi berarti, Aku hanya selalu berusaha menjadi pendengar yang baik, Karena aku tahu bagaimana rasanya diabaikan. Untuk diriku, terima kasih ya sudah jadi diri yang terbaik, maaf kalau masih suka memaksamu ngikutin ego dan, ambisi yang gak pernah ada habisnya. Untuk diri, kita rehat dulu, besok kita jalan lagi, pelan-pelan dalam hidup dan langka mu.
Warta : Digi Bona Coretan : Wegeidaka
|
Post a Comment